Cast : choi siwon, hankyung, shindong, lee donghae, shin hye you, kim hyun su, park gyu rin.
Genre : untitled
Keesokan harinya seperti biasa hyun su berada distadion. Pertandingan kian dekat, hanya berjarak 5 hari dari sekarang. Kaki hyun su sudah lebih baik walaupun masih sering terasa ngilu bila terlalu keras berlatih.
Kali ini ia ditemani shindong dan gyu rin duduk dibangku taman pinggir stadion.
“tinggal 5hari lagi, siap?” Tanya shindong.
“harus dong,. Aku udah janji mau bawa pulang mendali emas untuk appa..!!” ucap hyun su dengan mata bersemangat.
“yaaa…urri hyun su-gaaa,.. nomu charanda..!! kami selalu mendukungmu, hyun su-yah.. benarkan shindong?” ucap gyu rin sambil menggenggam tangan hyun su untuk memberikan semangat.
“keurooommm….!!! Urri hyun su-ga,.hwaitiiiing,” shindong mengambil tangan hyun su dan mengepalkannya sambil bersorak riang.
Namun saat sedang bercanda, tiba2 handphone hyun su bergetar. Nama ayahnya terpampang dilayar ponselnya, ia tersenyum dan lekas menjawab telpon ayah tersayangnya.
“appaaa…”
“yaah,.appa ttal, jigeum odiso?”
“mm,.aku distadion,appa.. appa wae?” Tanya hyun su.
“aniyo.. hanya ingin memberikanmu dukungan untuk pertandingan..” jawab ayahnya.
“appa,. Pertandingan masih 5hari lagi,. Dukungan appa terlalu cepat,.” Ucap hyun su sambil tertawa renyah. Kedua sahabatnya hanya memandang wajah riang hyun su.
“tidak apa2. Appa hanya takut tidak bisa melihatmu dipertandingan,hyun su-yah..”
“waeyo? Appa lembur?” Tanya hyun su.
“sepertinya,. Ya sudahlah, kau latihan lagi saja. Mian appa mengganggumu,.”
“ah,ne… appa saranghae..”
“keurae,. Appa doo…saranghae, appa ttal,..” ucap ayahnya.
Hyun su memasukkan kembali ponselnya kedalam tas yang dibawanya. Namun dikejauhan ia melihat hankyung yang sedang berjalan kearah mereka. Hyun su langsung beranjak dan memanggil siwon.
“yah,.mwo? kau ingat ancaman hye you? Dia bisa mencelakaimu,hyun su-yah..” ingat gyu rin khawatir.
“kkokjongma,. Nan gwaenchana..” ucap hyun su bergegas mendekati siwon sebelum hankyung sampai.
Ketika hankyung sampai, hankyung tak langsung duduk melainkan melihat hyun su yang berlari kearah siwon. Ia tau bahwa hyun su sedang menghindarinya.
“oppa,. mianhae.. hyun su tidak bermaksud untuk,.” Gyu rin mencoba menjelaskan.
“arraeyo.. kkokjongma.. lagi pula ada yang ingin ku bicarakan pada kalian.” Ucap hankyung.
“dengan kami, hyung? Waeyo?” Tanya shindong.
“adikku, hye you. Kalian tau kalau orang yang selama ini mencelakai hyun su adalah dia?” Tanya hankyung. Gyu rind an shindong saling tukar pandang mengisyaratkan apa yang harus mereka katakan. Melihat gelagat gyu rin dan shindong, akhirnya hankyung menambahkan bahwa mereka tak perlu takut karena hye you adik hankyung.
“ne,. beberapa minggu yang lalu hye you sengaja menabrak hyun su, hingga menyebabkan kaki hyun su jadi sakit lagi. Dan juga dia sempat mengancam hyun su..” jelas gyu rin.
“mwo? Mengancam?” Tanya hankyung kaget.
“ne,hyung.. aouggh..ottokhae?” ucap shindong khawatir.
“kkokjongma. Aku akan melindunginya, walaupun harus melawan adik kandungku sendiri.” Ucap hankyung.
“keundae..dia adikmu,hyung.. apa tidak apa2?” Tanya shindong tak percaya. Hankyung hanya tersenyum dan merangkul pundak shindong dan menepuknya.
“oppa,..neon..hyun su johae?” Tanya gyu rin tanpa basa basi.
Ditanya mendadak seperti itu hankyung tidak menemukan jawaban yang pasti untuk pertanyaan gyu rin. Wajahnya memerah menahan perasaannya yang membuncah jika mendengar nama hyun su, perasaan seperti orang jatuh cinta…
>>>>>
Lima hari kemudian..
Pertandingan pun dimulai. Siwon yang bertindak sebagai salah satu dari juri yang menilai pun melirik sekilas kearah para peserta, dan hyun su terlihat diantara mereka. Siwon melemparkan senyumnya pada hyun su, namun hyun su hanya mengangguk sopan. Hye you yang berada ditengah2 bangku penonton pun merasa panas melihat adegan siwon-hyun su tersebut. Ia pun meninggalkan kursinya dan pergi entah kemana. Tanpa ia ketahui, hankyung membuntutinya.
Gyu rin dan shindong duduk dibangku penonton tepat dibelakang siwon. Mereka berteriak menyemangati hyun su. Namun mata hyun su sibuk mencari sosok yang telah lama ia nanti, sosok ayah tercinta, penyemangat terbesar dalam hidupnya.
Perlombaan demi perlombaan pun telah berlangsung. Hasil sementara menunjukan hyun su menempati urutan kedua. Mereka mendapatkan jeda waktu istirahat sebelum pertandingan penentuan dilaksanakan beberapa jam lagi.
“hyun su-yah,. Apa targetmu?” Tanya siwon sambil menyodorkan handuk kecil pada hyun su. Gyu rind an shindong memandang siwon dengan alis berkerut.
“EMAS.!! Untuk urri appa,.” Jawab hyun su mantap.
“bagus. Kalau kau ingin mendapatkan emas, menangkan pertandingan terakhir. Kalau tidak kau harus puas dengan PERAK. Arraseo??” ucap siwon. Hyun su mengangguk mantap.
“ah,.keundae..urri appa opsoeyo??” Tanya hyun su. Gyu rin hanya menggeleng.
“mungkin dia sibuk,hyun su-yah.. ingat, mendali emas untuk ayahmu. Hwaitiiing..!!” ucap shindong ceria dan menggemaskan seperti biasanya. Melihat shindong yang begitu bersemangat, hyun su pun tak tahan ingin mencubit pipi gempalnya. Shindong hanya meringis sambil menggosok pipinya yang memerah karena cubitan hyun su. Mereka semua tertawa lepas.
Namun disisi lain, hye you sedang menunggu seseorang. Dari kejauhan sosok yang ditunggu pun muncul. Hye you menyalakan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas dalam2 sehingga mobil yang ia kendarai meraung keras. Dalam hitungan detik, mobilnya telah melaju cepat menabrak sosok yang tengah berjalan sambil membawa buket bunga cantik. Sontak saja tubuh orang tersebut langsung terpental cukup jauh. Hankyung yang dari tadi terus mengawasi hye you pun segera turun dari mobilnya dan menggedor kaca mobil hye you. Melihat hankyung berada disampingnya, hye you gugup dan langsung menginjak pedal gas dan melesat meninggalkan hankyung. Hankyung langsung berlari menghampiri sosok yang ditabrak adiknya tadi. Seorang pria berumur 50-an terkapar tak berdaya dengan darah yang membanjir keluar dari kepalanya. Hankyung segera menelpon ambulance dan memeriksa identitas korban. Namun alangkah terkejutnya hankyung ketika membuka ponsel sang korban. Foto seorang gadis cantik yang selama ini ia cintai terpampang diponsel korban.
“hyun su-yah…” erang korban.
“ahjusshi..bertahanlah..” ucap hankyung. Namun korban tak sadarkan diri.
>>>
Pertandingan pun telah selesai. Para penonton bersorak-sorai sambil mengelu-elukan hyun su yang menjadi pemenang. Targetnya untuk mendapatkan mendali emas tercapai. Ia terduduk digaris finish sambil terus mengucap syukur. Siwon mendekatinya dan mengulurkan tangan membantu hyun su berdiri. Hyun su menyambut uluran tangan siwon dan tersenyum.
“chukanda..” ucap siwon sambil memeluk tubuh hyun su yang basah oleh keringat. Hyun su tak menyangka mendapat ucapan selamat dari siwon dalam bentuk pelukan. Hyun su melepaskan pelukannya karena ia takut siwon dapat merasakan detak jantungnya yang semakin menggila.
“gomawo, oppa..” jawab hyun su sambil menutupi wajahnya yang bersemu merah.
“bersiaplah. Sebentar lagi penerimaan mendali. Ayahmu pasti bangga..!” ucap siwon sambil menepuk bahu hyun su pelan dan berlalu. Hyun su memandang kedua sahabatnya yang terus mendukungnya selama ini.
Dan setelah upacara pemberian mendali, hyun su langsung berlari menghampiri kedua sahabatnya, gyu rin dan shindong.
“kalian lihat?? Mendali ini untuk urri appa..!” ucap hyun su sambil mencium mendali emasnya. Senyum sumringah tak pernah pudar dari bibirnya. Namun kedua sahabatnya hanya mengucapkan selamat dengan senyum terpaksa. Bahkan gyu rin terlihat menghapus air mata yang menggenang disudut matanya.
“wae? Kalian tidak senang aku menang?” Tanya hyun su.
“ani..” jawab shindong gelisah.
“keundae wae??” Tanya hyun su.
“hyun su-yah..” panggil gyu rin sambil memeluk erat sahabatnya itu.
“aeyoo..wae??” ucap hyun su sambil melepaskan pelukan gyu rin. Ia menatap gyu rin yang telah berlinang air mata.
“apa yang kalian lakukan? Hyun su harus segera kerumah sakit!” ujar siwon yang tiba2 datang.
“oppa, kakiku baik2 saja..!” jawab hyun su.
“keurongo aniyo..!! ayahmu harus dioperasi segera. Palli..,” ucap siwon sambil menarik tangan hyun su.
Hyun su menghentakkan tangannya keras,”urri appa wae???” Tanya hyun su cemas. Wajahnya terlihat pucat, matanya memerah.
“akan kami jelaskan nanti. Khajja.. kita tak punya banyak waktu lagi,. Palli khajja..” ucap siwon dan mereka berempat pun masuk kemobil siwon dan segera melesat kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, hyun su langsung berlari dengan wajah berlinangan air mata. Mendali emas masih menggantung dilehernya. Ia terlihat kacau. Sedang siwon, shindong dan gyu rin berlari mengikuti dibelakangnya.
Hankyung telah lema menunggu mereka didepan ruang UGD. Melihat hankyung yang mondar mandir, hyun su langsung menyerbunya.
“urri appa…!! Urri appa wae??” Tanya hyun su histeris sambil mencengram erat jas putih yang hankyung kenakan.
Hankyung menghembuskan nafas sambil memejamkan matanya. Siwon, shindong dan gyu rin menunggu penjelasan hankyung.
“hyung..” panggil siwon.
“ahjussi mengalami penggumpalan darah dikepalanya. Sehingga ia harus segera mendapatkan operasi untuk mencegah penghambatan oksigen masuk.” Ucap hankyung. Hyun su langsung lemas dan hampir terjatuh, namun dengan sigap hankyung menahannya.
“lakukan segera,hyung..!” sahut siwon.
“arra.. keundae, ahjussi tidak ingin dioperasi. Ia terus mengatakan bahwa hyun su akan menghadiahkannya mendali emas..” lanjut hankyung. Ia menatap hyun su yang sedari tadi tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Ia terus menangis tanpa suara dan terus menggenggam erat mendali emas didadanya.
“hyun su-yah..” panggil hankyung sambil berjongkok dihadapan hyun su yang duduk dikursi tunggu. Hyun su menatap hankyung samar karena matanya telah dipenuhi gumpalan air mata.
“masuklah.. bujuk ayahmu untuk operasi. Jangan fikirkan biaya, yang penting ayahmu bisa selamat. Jebal,..” bujuk hankyung. Hyun su segera masuk kedalam ruangan dan melihat ayahnya terbaring lemas tak berdaya.
Hyun su menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak ingin isak tangisnya mengganggu ayahnya. Ia duduk disisi ayahnya dan menggenggam tangannya disela selang-selang infuse yang mengaliri cairan merah.
“appa,..mendali emas…” hyun su tak mampu melanjutkan kata-katanya.
“hyun su-yah,.” Panggil ayahnya lemah. Hyun su bangkit dan mendekat pada ayahnya. Mata ayahnya pun tertuju pada mendali yang masih tergantung dileher putrid satu2nya itu.
“kau berhasil..” lanjutnya. Hyun su tak mampu berucap apa2, hanya air mata yang tak henti mengalir dipipinya.
“uljima,.. gwaenchana, appa ttal..” ucap sang ayah sambil menghapus air mata hyun su. Namun air mata hyun su semakin deras.
“appa,..jebal..” bujuk hyun su.
“mwo-ga?” Tanya ayahnya lemas.
“appa, operasi lah.. appa, jebal..” rengek hyun su sambil terus menggenggam tangan ayahnya. Ayahnya menutup matanya dan menarik nafas panjang. Melihat ayahnya terpejam, hyun su segera memanggil ayahnya.
“appaa… apppa….” Teriak hyun su histeris. Mendengar teriakan hyun su, hankyung dan yang lainnya segera berhamburan masuk melihat apa yang terjadi. Hyun su masih terus memangil ayahnya, namun mesin pendeteksi mulai mengeluarkan bunyi yang tak teratur, juga nafas sang ayah mulai tidak stabil. Melihat keadaan ini, hankyung segera mendorong hyun su dan menekan dada ayah hyun su. Namun nafasnya tak kunjung normal. Hankyung berteriak memanggil perawat, dengan segera sang perawat pun datang dengan beberapa alat bantu pernafasan. Gyu rin terus memeluk hyun su yang masih histeris dan terus memanggil ayahnya.
Beberapa menit berlalu, akhirnya denyut nadi sang ayahpun tak dapat dideteksi lagi, dan mesin pun menggambarkan garis lurus dan raungan panjang. Hankyung terduduk disisi tempat tidur ayah hyun su. Ia telah gagal menyelamatkannya. Dan saat hyun su melihat hankyung yang berlutut, ia segera menghambur kearah ayahnya. Ia terus menjerit memanggil sang ayah berharap ayahnya dapat membuka matanya, namun tentu saja itu sia2 karena ayahnya tak akan bangun kembali untuk selamanya. Hyun su menangis sejadi-jadinya didepan jasad ayahnya. Sang perawat yang tadi membantu hankyungpun perlahan lahan melepaskan selang2 yang ada ditubuh ayah hyun su yang tak lagi bernyawa. Disaat perawat tersebut ingin mencabut selang oksigen dari hidung ayahnya, hyun su menjadi lebih histeris.
“jangan dilepaskan. Ayahku masih membutuhkannya.. ayahku masih perlu oksigen..!!!!!!!” teriak hyun su sambil menepis tangan sang perawat.
“agasshiii…tapi ayah anda..” ucap perawat tersebut lembut pada hyun su.
“ANDWAE…!!!!!” teriak hyun su sambil memeluk ayahnya. Perawat yang kebingungan itu pun menatap hankyung dan hankyung menyuruhnya untuk pergi. Melihat hyun su yang menangis histeris, gyu rin tak sanggup lalu ia memilih untuk keluar ruangan dan menangis dipelukan shindong. Siwon pun diam tak berani mendekat. Ia hanya menatap miris hyun su. Hankyung pun berinisiatif untuk menarik tubuh lemas hyun su.
“hyun su-yah..” ucap hankyung sambil menarik tubuh hyun su kedalam dekapannya. Hyun su masih terus menangis dan memanggil ayahnya tanpa henti.
“hyun su-yah,jangan begini,. Jebal…” bujuk hankyung sambil mengeratkan pelukannya. Siwon yang melihat hyun su dalam dekapan hankyung pun memilih untuk menunggu diluar.
>>>>>>
Pagi harinya ayah hyun su dikebumikan. Banyak yang datang hanya untuk sekedar berbela sungkawa. Mulai dari teman2 atlet, tetangga sekitar dan juga rekan kerja sang mendiang ayah. Semua berpakaian serba hitam. Upacara pemakaman berlangsung hikmad. Gyu rin tak sedetikpun meninggalkan hyun su sejak semalam dirumah sakit hingga saat ini. Tangannya masih terus menggenggam tangan hyun su erat, seolah ia ingin membagi energinya pada sahabat baiknya itu. Hyun su masih tak henti menangis. Tetes demi tetes air mata membasahi pipinya. Matanya pun terlihat bengkak karena terus menangis. Shindong datang bersama siwon. Mereka langsung member penghormatan terakhir pada jasad ayah hyun su, lalu menghampiri hyun su dan gyu rin.
Shindong menjabat erat tangan mungil hyun su dan berujar bahwa hyun su harus tetap kuat menghadapi semuanya. Dan siwon langsung memeluk tubuh lemah hyun su.
“hyun su-yah.. kkokjongma,. Kami akan selalu ada disampingmu,. Arraseo?” ucap siwon. Hyun su mengangguk lemah, air matanya makin deras mengalir.
Tak lama kemudian hankyung datang bersama ayahnya yang merupakan pemilik kampus dimana hyun su menempuh pendidikannya.
“kami sekeluarga turut berduka, hyun su-ssi..” ujar ayah hankyung lembut. Hyun su membalas jabatan tangan ayah hankyung sambil membungkuk mengucapkan terimakasih. Hankyung tak bicara apa2, ia hanya membungkukkan badannya. Matanya tak lepas mengawasi sosok gadis yang dicintainya itu.
Sedikit demi sedikit orang2 pun mulai meninggalkan tempat. Hingga kini tinggallah hyun su yang ditemani gyu rin, shindong, siwon dan juga hankyung. Rumah hyun su terlihat lengang. Ia duduk bersimpuh dilantai yang dingin sambil memeluk erat foto mendiang ayahnya.
“hyun su, makanlah.. dari semalam kau tak makan apa2,.” Ucap gyu rin sambil menyuapkan sesendok bubur. Namun hyun su hanya menggelang. Wajahnya pucat.
“hyun su-yah, makanlah,.” Gentian shindong yang membujuknya untuk membuka mulut. Namun nihil. Hyun su hanya menggeleng.
“kalau begitu, biar ku buatkan jus buah. Lumayan untuk asupan gizi..” ucap hankyung sambil beranjak dari duduknya.
“dwaeso..” ucap hyun su. “aku tak ingin apa2. Kalian pulanglah.” Ujar hyun su getir.
“andwae.. aku akan menemanimu..” ucap gyu rin.
“nado..” ucap shindong.
“kemhan kha…” pinta hyun su. Ia ingin sendirian saat ini.
Siwon pun mengangguk mengiyakan. Akhirnya mereka pun pulang dan hyun su benar2 sendirian sekarang. Saat hankyung menutup pintu, terdengar isak tangis hyun su yang memilukan hatinya. Ia mencengkram erat pegangan pintu sebelum benar2 menutupnya.
>>>>>>
PLAAAK……!!!!
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi mulus hye you. Ayah dan ibu hankyung pun hanya mampu terdiam melihat putra sulungnya menampar putri bungsu mereka. Ayahnya hanya menatap tajam kearah hye you yang terisak sambil mengusap pipi mulusnya sedang sang ibu mengalihkan pandangannya dari hye you. Hankyung mencoba untuk mengatur emosinya.
“lihat apa yang telah kau lakukan..!! kami tak pernah mendidikmu untuk menjadi seorang pendendam,hye you-ah..” ucap sang ayah lantang.
“appaa…” rengek hye you. Namun kali ini ayahnya benar2 marah setelah mengetahui bahwa putrinyalah yang menyebabkan meninggalnya ayah hyun su, salah satu mahasiswa kebanggaan universitasnya.
“appa mianhae… aku tak menyangka bahwa ahjushi itu akan meninggal,. Aku,aku hanya..” ucap hye you terbata bata. Ia telah kehabisan kata2 untuk menyangkal.
“appa, kita lapor polisi..” ucap hankyung tegas. Diikuti anggukan sang ayah. Kini hye you benar2 menangis dan merengek pada ibunya. Ibunya pun terlihat iba dan mencoba berbicara.
“yeobo.. apa tidak keterlaluan. Tidak harus memasukkan putrid kita kepenjara seperti ini,.” Bela sang ibu.
“omma.. dia telah membunuh..!!! hanya penjara yang tepat untuk menampung seorang pembunuh..” bentak hankyung.
“benar. Kau sudah keterlaluan, hye you-ah.. kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu.” Ucap ayahnya tegas.
Satu jam kemudian, polisi pun datang dan membawa hye you kekantor polisi. Malam semakin larut, penjemputan hye you oleh polisi tak ada halangan sama sekali. Ia hanya menuruti perintah polisi dan dikawal masuk dalam mobil patrol dengan borgol dikedua tangannya.
“hye you-ah,. Omma akan berusaha menolongmu,nak.. sabar ya, sayang..” ucap sang ibu sebelum mobil patrol membawa anak gadisnya.
Keesokan harinya pun, berita ditangkapnya hye you telah menyebar. Hyun su yang pagi itu mengikuti perkuliahan seperti biasa pun telah mendengar kabar itu. Namun ia tak ingin menggubris permasalah hye you. Baginya dengan ditangkap atau tidaknya hye you, hasilnya akan sama saja yaitu ayahnya tak akan pernah kembali.
Gyu rin yang terus memperhatikan hyun su dikelas pun hanya bisa menahan air matanya agar tak tumpah. Hyun su sedikitpun tak bicara. Wajahnya pucat, sangat pucat. Lingkaran hitam terlihat samar dimatanya.
Perkuliahan pun selesai, hyun su terlihat duduk dibawah pohon rindang sambil mendengarkan lagu2 di ipod kesayangannya. Matanya terpejam dan ia menyandarkan kepalanya pada tubuh pohon rindang tersebut. Sesekali ia ikut menyanyikan lagu yang sedang ia dengarkan. Gyu rin semakin sedih melihat sikap hyun su yang ceria berubah menjadi murung seperti ini. Ia pun menghubungi hankyung.
“yoboseo..” sapa hankyung.
“oppa,.kau sibuk?” Tanya gyu rin.
“ani.. hanya tinggal beberapa pasien lagi. Wae?” Tanya hankyung.
“pasien klinik?” Tanya gyu rin.
“aniyo. Klinik dijaga shindong. Aku dirumah sakit sekarang.. gyu rin waegurae?”
“hyun su berubah,oppa.. kita bicara setelah urusan pasienmu selesai. Aku tunggu dicafe biasa..” ucap gyu rin. Ia menutup ponselnya dan memasukkannya kedalam tas cantiknya. Ia kembali menatap pohon dimana hyun su bersandar. Hyun su masih disana. Ia pun berlari ke mesin minuman dan membeli minuman segar untuk hyun su. Ia mulai berjalan kearah hyun su. Namun gyu rin berpas-pasan dengan siwon yang juga hendak menghampiri hyun su dengan segelas kopi ditangannya. Gyu rin cepat2 menghentikan langkah siwon sebelum hyun su meyadari kehadiran mereka berdua.
“gyu rin-ah, wae..?” Tanya siwon.
“jangan dekati hyun su lagi. Semua masalah yang menimpa hyun su itu karena kau, siwon-ah..”
“mwo??” Tanya siwon kaget setengah mati.
“nanti ku jelaskan. Tunggu aku disini.. jangan kemana mana,. Arraseo??” ucap gyu rin tegas diikuti anggukan siwon. Gyu rin pun melanjutkan langkahnya mendekati hyun su yang masih asik dengan dunianya sendiri. Semantara siwon terus memikirkan maksud perkataan gyu rin dengan pandangan tak lepas dari hyun su.
“yah..neo mwoeya?” Tanya gyu rin sambil melepaskan earphone yang menutupi telinga hyun su. Hyun su hanya tersenyum simpul.
“itgo..” gyu rin mengulurkan minuman segar yang tadi ia beli.
“gomawo..” ucap hyun su sambil menerima minuman itu.
“aaah,..leganya mendengar suaramu, hyun su-yah..” ucap gyu rin sambil memeluk sahabatnya itu erat.
“yah..mwoeya…??” ucap hyun su sambil melepaskan pelukan erat gyu rin. Kemudian mereka sama2 tertawa. Tawa ini adalah tawa perdana hyun su semenjak ayahnya meninggal.
“aku harus pergi sekarang. Lanjutkan nyanyianmu, hubungi aku bila kau rindu padaku,. Oh.??” Ucap gyu rin sambil memasangkan kembali earphone hyun su. Hyun su hanya mengangguk dan tersenyum simpul.
“annyeong…” ucap gyu rin sambil melambaikan tangannya. Hyun su pun membalas lambaiannya.
Gyu rin mengahmpiri siwon yang sedari tadi menunggunya, lebih tepatnya menunggu penjelasannya.
“khaeyo..” ucap gyu rin.
“odi kha?” Tanya siwon.
“palli…” jawab gyu rin. Siwon pun mengikutinya.
Sesampainya di café, mereka memesan minuman dan menunggu hankyung disalah satu sudut café tersebut.
“gyu rin-ah, cepat jelaskan padaku.. apa yang kau maksud dengan semua ini karena aku?” Tanya siwon.
“nanti kujelaskan. Tunggu hankyung oppa datang dulu.” Jawab gyu rin.
“hankyung hyung?” Tanya siwon. Gyu rin mengangguk sambil mengirimkan pesan singkat pada hyun su.
Hyun su-yah,. Saranghae..
Sending..
Tak lama kemudian balasan hyun su masuk..
Yah,.michyoso? ku bunuh kau bila berani mencintaiku..!!!
Gyu rin tertawa membaca balasan hyun su. Sepertinya hyun su mulai lebih baik sekarang.
“annyeong..” sapa hankyung dan duduk dikursi kosong sebelah siwon.
“waseo..” sapa gyu rin.
“hyung,. Sebenarnya ada apa? Jelaskan padaku, jebal..” pinta siwon.
“gyu rin, wae?” Tanya hankyung yang tak mengerti maksud siwon.
Gyu rin pun menjelaskan segalanya pada siwon. Mulai dari kaki hyun su terluka saat latihan, hyun su yang ditabrak hingga kejadian ayah hyun su meninggal.
“mwo?? Jadi semuanya karena hye you menyukaiku?” Tanya siwon tak percaya.
“ne,. dan ia tau bahwa hyun su juga menyukaimu. Makanya ia tak membiarkan hyun su mendekatimu..” sambung hankyung.
“tapi,..aarrg,..ne-ga micheo..” ucap siwon sambil menyandarkan punggungnya kesandaran kursi.
“lalu, bagaimana hyun su sekarang?” Tanya hankyung
“dia jadi pendiam. Lebih senang menyendiri. Tapi kurasa ia mulai membaik sekarang karena ia sudah berani membunuhku,.hehe” jawab gyu rin.
Namun tiba2 ponsel hankyung bordering.
“yoboseo.. appa,wae?” Tanya hankyung. Wajahnya berubah ketika mendengar penjelasan ayahnya. Lalu ia memutuskan telponnya dan bergegas pergi.
“hyung wae?” Tanya siwon.
“hye you masuk rumah sakit..” ucap hankyung singkat. Dan kemudian mereka bertiga bergegas kerumah sakit untuk melihat keadaan hye you..
-TBC-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar